Parenting Islami di Zaman yang Tidak Biasa: Belajar Mengasuh Anak dari Al-Qur’an
Menjadi orang tua di era sekarang bukan perkara sederhana. Saat ini, banyak dari kita, khususnya generasi millennial dan Gen Z, tumbuh di tengah teknologi, media sosial, dan perubahan budaya yang bergerak sangat cepat. Akibatnya, tantangan ini membuat praktik parenting islami terasa lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, dalam salah satu kajian bertema Parenting and Quranic Wisdom, Ustadz Nouman Ali Khan mengajak para orang tua untuk berhenti sejenak dan merenung. Beliau mengajukan satu pertanyaan penting. Apakah cara kita mengasuh anak hari ini sudah benar-benar berpijak pada petunjuk Allah? Untuk membuka perenungan tersebut, kajian ini dimulai dengan pembacaan QS. An-Nisa ayat 1. Ayat ini sering kita dengar. Namun demikian, banyak orang tua belum memahaminya secara mendalam dari sudut pandang parenting islami. QS. An-Nisa Ayat 1 dan Akar Parenting Islami Allah berfirman: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 1) Melalui ayat ini, Allah berbicara kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada orang beriman. Dengan demikian, Allah menunjukkan bahwa parenting merupakan fondasi utama keberlangsungan umat manusia. Tanpa orang tua, generasi tidak akan pernah lahir. Tanpa proses pengasuhan, peradaban tidak akan pernah tumbuh. Dari Nabi Adam ‘alayhis salam dan istrinya, Allah menghadirkan seluruh manusia di bumi. Oleh karena itu, kisah besar umat manusia sejatinya adalah kisah tentang parenting islami yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mengapa Parenting Islami Terasa Lebih Berat Hari Ini Selanjutnya, Ustadz Nouman menjelaskan bahwa kita hidup di zaman yang tidak biasa. Dahulu, banyak orang tua membesarkan anak dalam kondisi yang relatif aman. Lingkungan mendukung nilai Islam secara alami. Adzan terdengar di mana-mana. Masjid hidup. Norma sopan santun menjadi kebiasaan sehari-hari. Akibat kondisi tersebut, anak-anak menyerap nilai Islam tanpa memerlukan banyak penjelasan. Namun sekarang, situasinya berubah drastis. Media sosial, film, game, budaya pacaran, dan gaya hidup global hadir setiap hari. Lambat laun, hal-hal yang dulu terasa asing berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Karena perubahan inilah, anak-anak kita tumbuh sebagai minoritas nilai. Inilah tantangan utama dalam menjalankan parenting islami di era modern. Ketika Anak Merasa Berbeda Dalam kondisi tersebut, anak-anak mulai mengajukan pertanyaan. Mereka bertanya mengapa cara berpakaian kita berbeda. Mereka mempertanyakan mengapa suasana di masjid tidak sama dengan lingkungan di luar. Bahkan, mereka mulai merasa tidak sama dengan teman-temannya. Menurut Ustadz Nouman, kondisi ini bukan kesalahan anak. Selain itu, kondisi ini juga bukan semata kesalahan orang tua. Sebaliknya, tekanan budaya yang kuat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Apa yang kita anggap normal hari ini akan anak-anak warisi sebagai hal yang normal pula. Karena itu, parenting islami tidak bisa lagi dijalani secara otomatis. Orang tua perlu menghadirkan kesadaran, niat yang lurus, dan usaha yang konsisten. Parenting Islami Bukan Sekadar Mengurus Anak Sering kali, orang tua memaknai parenting sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak. Kita memberi makan, menyekolahkan, menjaga kesehatan, dan mengantar mereka ke berbagai aktivitas. Tentu saja, semua ini penting dan tidak bisa diabaikan. Namun demikian, Al-Qur’an mengingatkan bahwa parenting islami adalah amanah ruhani. Orang tua memikul tanggung jawab besar untuk membentuk iman, akhlak, dan orientasi hidup anak. Untuk itulah, Ustadz Nouman memilih pendekatan yang berbeda dalam memahami parenting islami. Membaca Al-Qur’an sebagai Orang Tua Dalam salah satu sesi kajian, Ustadz Nouman membaca Al-Qur’an secara utuh dalam satu hari dengan niat khusus sebagai orang tua. Beliau memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dalam menjalankan peran parenting islami. Alih-alih mencari satu ayat tertentu, beliau mencatat semua ayat yang memberi panduan bagi orang tua. Setelah itu, beliau merenungkannya secara menyeluruh. Dari proses ini, terkumpul puluhan halaman catatan yang kemudian dirangkum menjadi tujuh bagian besar tentang parenting islami dalam Al-Qur’an. Tujuh Pilar Parenting Islami dari Al-Qur’an Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa anak adalah hadiah dari Allah. Karena itu, orang tua perlu memperlakukan hadiah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Kedua, Al-Qur’an menunjukkan hal-hal yang menjadi perhatian orang tua. Fakta bahwa Allah mengabadikannya dalam kitab-Nya menandakan bahwa isu parenting islami selalu relevan sepanjang zaman. Ketiga, Al-Qur’an menggambarkan anak sebagai ujian. Anak bisa menghadirkan kebahagiaan sekaligus cobaan, mulai dari sakit, masalah perilaku, hingga tantangan iman. Keempat, Al-Qur’an mengingatkan tentang pertemuan orang tua dan anak di hari penghakiman. Kesadaran ini seharusnya membentuk cara orang tua mendidik anak sejak dini. Kelima, Al-Qur’an mengajarkan psikologi parenting islami melalui kisah dalam Surat Yusuf dan Surat Al-Qashash. Dari sana, orang tua belajar empati, komunikasi, dan pengelolaan emosi anak. Keenam, Al-Qur’an menuntun orang tua untuk menanamkan nilai-nilai penting. Nilai tersebut mencakup kejujuran, kesabaran, pengendalian marah, serta sikap terhadap sesama manusia. Ketujuh, Al-Qur’an mendorong orang tua untuk membesarkan anak agar melayani agama Allah. Anak bukan milik kita sepenuhnya. Sebaliknya, anak adalah amanah yang harus diarahkan kepada kebaikan. Makna QS. An-Nisa Ayat 1 tentang Ayah dan Ibu Di awal ayat, Allah menyebut satu jiwa yang merujuk kepada Nabi Adam sebagai ayah pertama manusia. Kemudian, di akhir ayat, Allah memerintahkan manusia untuk menjaga hubungan rahim yang merujuk kepada ibu. Dengan demikian, Allah menegaskan bahwa takwa kepada-Nya tidak bisa dipisahkan dari menjaga hubungan orang tua dan anak. Parenting islami menuntut orang tua untuk melindungi hubungan tersebut agar generasi tumbuh dengan iman yang kokoh. Kehormatan dan Tanggung Jawab Orang Tua Islam memuliakan orang tua. Namun, setiap kemuliaan selalu datang bersama tanggung jawab besar. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjadi teladan terbaik dalam hal ini. Beliau memiliki kemuliaan sekaligus memikul amanah yang berat. Begitu pula dengan orang tua. Kehormatan dan tanggung jawab harus berjalan seimbang. Di tengah tantangan zaman ini, Allah sedang menguji kesungguhan kita dalam menjalankan parenting islami. Pada akhirnya, parenting islami bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna. Sebaliknya, parenting islami adalah proses belajar yang terus berjalan. Proses ini mengajak orang tua untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai sumber hikmah dan petunjuk. Karena itulah, Allah telah menyiapkan panduan untuk setiap zaman, termasuk zaman kita hari ini.








